Rabu, 07 Desember 2016

intermezo TERAPI WICARA pada anak anak,Taman Bringin Elok Blok.R NO 1 NGALIAN SEMARANG

TERAPI WICARA  merupakan gabungan dari kata terapi yang berarti cara mengobati suatu penyakit atau kondisi patologis, dan kata wicara yang berarti media komunikasi secara oral yang menggunakan simbol-simbol linguistik, dimana dengan media ini seseorang dapat mengekspresikan ide, pikiran dan perasaan. Dengan demikian istilah terapi wicara memiliki pengertian yaitu cara atau teknik pengobatan terhadap suatu kondisi patologis di dalam memformulasikan ide, pikiran dan perasaan ke bentuk ekspresi verbal atau media komunikasi secara oral.
 Prosedur Kerja Terapi Wicara
Tenaga terapis wicara memiliki suatu sistematika pelayanan yang secara berurutan, meliputi : asesmen, menegakkan diagnosis dan prognosis, perencanaan program, pelaksanaan terapi serta evaluasi. Secara spesifik tindakan ini hanya dapat dilakukan oleh terapis wicara. Ketika menjalankan tugasnya dapat bekerja sama dengan ahli-ahli lain yang terkait, karena penanganan terhadap kondisi gangguan perilaku komunikasi dilakukan secara multidisipliner.

Selanjutnya prosedur kerja terapi wicara secara lebih terperinci diuraikan sebagai berikut:
a. Asesmen
Bertujuan untuk mendapatkan data awal sebagai bahan yang harus dikaji dan dianalisa untuk membuat program selanjutnya. Asesmen ini meliputi tiga cara, yaitu melalui anamnesa, observasi, dan melakukan tes, di samping itu juga diperlukan data penunjang lainnya seperti hasil pemeriksaan dari ahli lain.
b. Diagnosis dan Prognosis
Setelah terkumpul data, selanjutnya data tersebut digunakan sebagai bahan untuk menetapkan diagnosis dan jenis gangguan/gangguan untuk membuat prognosis tentang sejauh mana kemajuan optimal yang bisa dicapai oleh penderita.
c. Perencanaan terapi wicara
Perencanaan terapi wicara ini secara umum terdiri dari :
1) Tujuan dan program (jangka panjang, jangka pendek dan harian).
2) Perencanaan metode, teknik, frekuensi dan durasi.
3) Perencanaan penggunaan alat.
4) Perencanaan rujukan (jika diperlukan).
5) Perencanaan evaluasi.
d. Pelaksanaan terapi wicara
Pelaksanaan terapi harus mengacu pada tujuan, teknik/metode yang digunakan serta alat dan fasilitas yang digunakan.
e. Evaluasi
Kegiatan ini terapis wicara menilai kembali kondisi pasien dengan membandingkan kondisi, setelah diberikan terapi dengan data sebelum diberikan terapi. Hasilnya kemudian digunakan untuk membuat program selanjutnya.
f. Pelaporan Hasil : Pelaporan pelaksanaan dari asemen sampai selesai program terapi dan evaluasi.


2. Bidang Garap dan Diagnosis Terapi Wicara
a. Bidang Garap Terapi Wicara
Gangguan berkomunikasi merupakan suatu kondisi yang masih bersifat umum dan belum terperinci. Gangguan komunikasi dapat dibedakan sesuai dengan tingkat kerusakan dan jenis gangguannya. Secara umum gangguan komunikasi ini dibedakan menjadi 2 kelompok besar yaitu gangguan bahasa dan gangguan wicara, yang selanjutnya gangguan wicara dibedakan menjadi gangguan artikulasi, gangguan suara, dan gangguan kelancaran. Sedangkan menurut kurikulum Pendidikan Terapi Wicara tahun 2002, gangguan komunikasi ini dibedakan dalam 4 (empat) kelompok besar gangguan komunikasi serta gangguan menelan. Gangguan komunikasi, meliputi : Gangguan wicara, Gangguan Bahasa, Gangguan Suara, Gangguan Irama dan Kelancaran. Dari klasifikasi tersebut diperinci lagi ke dalam jenis-jenis gangguan yang berkaitan pada masing-masing gangguan atau gangguan komunikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar